Aku tidak pernah menghitung berapa juta kali impuls-impuls elektrokimiawi bereaksi di otak sepanjang hidupku.Yang aku tahu hanyalah setiap kali impuls-impuls di bagian korteks ini mengulang rekaman yang pernah ada, sering kali aku hanyut dalam dimensi yang serasa begitu akrab dengan indraku.
Kadang seperti de-javu…………………..
Aku juga tidak pernah memastikan berapa frame yang kini terjebak dalam peta daya ingat di struktur limbis yang ada di jaringan rumit yang disusun 100 miliar sel-sel syaraf berikut miliaran neuron di dalamnya.
Yang aku tahu, sekian frame diantaranya tidak pernah —dengan benar-benar tidak pernah– hilang dari rumah kecilnya itu. Baik, buruk, senang, sedih, menakjubkan, mengerikan, memalukan, dan segala skenario cerita lainnya. Ada dan sebagian diantaranya —ternyata– selalu ada. Tapi banyak juga yang lenyap tak berbekas.
Seperti halnya satu frame yang terbentuk kembali ketika aku menemukan CD Mr.Big yang sebentar kemudian tak putus mengalun dari perangkat pemutar CD.
“I use to dream of only u. Now I don’t do that. I use to miss talking to u. Now I don’t do that. Since u’re be gone I learn to stop. Try to hold on because not one night, one single day. I wouldn’t give it to u…..”
(Not One Night – Mr. Big)
Bukan soal getar suara Eric Martin atau petikan gitar Paul Gilbert. Tapi… sisa-sisa ketakjuban perasaan yang pernah terbentuk sebelumnya. Pun ketika melangkah keluar rumah pagi ini dengan gerimis mengguyur Jakarta, intensitas sensasi itu seperti tergandakan.
Setiap orang pasti tidak pernah bisa mengelak dari situasi semacam itu. Memang kadang tidak bermaksud dengan sengaja mengutak-atik hal-hal yang sudah berlalu.
Tapi perasaan ganjil seperti itu bisa muncul tiba-tiba.. meski ternyata kemudian hanya berakhir di simpul senyum saja.
Then here I am. Here we are. Inilah aku sekarang. Kita sekarang. Ada karena masa lalu. Dan menjadi kaya dengan segala masa lalu itu.
Apakah ini mengganggumu? Apakah ini mengganggu kita?

Recent Comments