Mengganggu?

Posted April 24, 2008 by kakikecil
Categories: Jejak baru

 

Aku tidak pernah menghitung berapa juta kali impuls-impuls elektrokimiawi bereaksi di otak sepanjang hidupku.Yang aku tahu hanyalah setiap kali impuls-impuls di bagian korteks ini mengulang rekaman yang pernah ada, sering kali aku hanyut dalam dimensi yang serasa begitu akrab dengan indraku.

 

Kadang seperti de-javu…………………..

 

Aku juga tidak pernah memastikan berapa frame yang kini terjebak dalam peta daya ingat di struktur limbis yang ada di jaringan rumit yang disusun 100 miliar sel-sel syaraf berikut miliaran neuron di dalamnya.

Yang aku tahu, sekian frame diantaranya tidak pernah —dengan benar-benar tidak pernah– hilang dari rumah kecilnya itu. Baik, buruk, senang, sedih, menakjubkan, mengerikan, memalukan, dan segala skenario cerita lainnya. Ada dan sebagian diantaranya —ternyata– selalu ada. Tapi banyak juga yang lenyap tak berbekas.

 

Seperti halnya satu frame yang terbentuk kembali ketika aku menemukan CD Mr.Big yang sebentar kemudian tak putus mengalun dari perangkat pemutar CD.

 

“I use to dream of only u. Now I don’t do that. I use to miss talking to u. Now I don’t do that. Since u’re be gone I learn to stop. Try to hold on because not one night, one single day. I wouldn’t give it to u…..”

(Not One Night – Mr. Big)

 

Bukan soal getar suara Eric Martin atau petikan gitar Paul Gilbert. Tapi… sisa-sisa ketakjuban perasaan yang pernah terbentuk sebelumnya. Pun ketika melangkah keluar rumah pagi ini dengan gerimis mengguyur Jakarta, intensitas sensasi itu seperti tergandakan.

Setiap orang pasti tidak pernah bisa mengelak dari situasi semacam itu. Memang kadang tidak bermaksud dengan sengaja mengutak-atik hal-hal yang sudah berlalu.

Tapi perasaan ganjil seperti itu bisa muncul tiba-tiba.. meski ternyata kemudian hanya berakhir di simpul senyum saja.

Then here I am. Here we are. Inilah aku sekarang. Kita sekarang. Ada karena masa lalu. Dan menjadi kaya dengan segala masa lalu itu. 

 

Apakah ini mengganggumu? Apakah ini mengganggu kita?

 

Tentang damai

Posted April 21, 2008 by kakikecil
Categories: Perjalanan

Sawah. Bukit. Lembah. Gunung. Hutan kecil…. Angin.

Emas pada pagi yang ditimpa matahari. Kemudian perak lalu tampak hijau. Sebentar lalu sedikit jingga pada sore. Hingga gelap dan dingin. Tapi seketika hangat di mata air Kamojang.

“Sayang.. aku menemukan kedamaian itu. ”

 

- padapagidigarutaprilkemarin -

Ikan terakhir di Intata?

Posted April 2, 2008 by kakikecil
Categories: Perjalanan

img_6618.jpgimg_6579.jpgimg_6808.jpg

Penanda dering layanan pesan singkat mengabarkan aksi kawan-kawan dari satu LSM lingkungan, Walhi, yang menggugat Departemen Kelautan dan Perikanan.

“Ada 50 orang nelayan Muara Baru akan membawa perahu,” begitu isi pesan itu.

Benar. Di tengah terik Jakarta yang berdebu di bilangan Gambir, sejumlah nelayan membawa perahu kayu kecil –yang mungkin lebih pantas kusebut biduk- dan atribut-atribut berisi tuntutannya. Kata mereka, pemerintah tidak peduli pada nelayan.

Aku jadi ingat hampir setahun lalu ketika kakiku membawaku ke satu pulau kecil di Gugusan Nanusa, utara Pulau Sulawesi sana. Namanya, Pulau Intata. Tempat sakral bagi masyarakat Pulau Kakorotan dan sekitarnya yang hidup bergantung dari hasil laut.

Bukan nelayannya yang aku ingat. Tapi cara mereka memperlakukan laut dan isinya dengan balutan tradisi Mane’e: menangkap ikan dengan janur [daun kelapa yang muda].

Janur yang dianyam di akar pohon sepanjang kiloan meter menjadi pukat sederhana yang menggiring ratusan ikan ke pantai dan akhirnya menggelepar terjebak karang karena air surut. Lalu tepat pantai di batas landainya, warga setempat menyerbu ikan-ikan yang jumpalitan di kubangan-kubangan karang. Berton-ton ikan mati menjadi santapan malam itu..

Untung setahun sekali. Setiap Mei. Kala kemarau mulai tinggi dan purnama tampak jingga. Jika tidak, tahun ini Mane’e menangkap ikan terakhir di Intata.

Hanya soal waktu

Posted April 2, 2008 by kakikecil
Categories: Jejak baru

Seorang teman kerap mengatakan kalimat sakti: Hanya Soal Waktu. Kalimat itu dicatutnya dari bak belakang truk yang dilihatnya di jalur utama Pantura. Sederhana. Tetapi berkesan, katanya.

Awalnya, aku tidak menanggapi itu serius. Tetapi lama-lama aku bergumam: Hmmm.. benar juga. Semua kemudian hanya soal waktu. Pembenaran, ingkaran, atau sekedar kamuflase?

Ya.. kamuflase dari jawaban yang tidak selalu ada. Tidak selalu tepat. Atau ketika kesempatan belum datang. Entahlah.. kalimat itu akhirnya menjadi menyebalkan ketika semua pertanyaan bermuara ke sana. Hanya soal waktu. Kenapa akhirnya waktu menjadi begitu berkuasa?

Aku tidak berkuasa atas waktu. So.. waktu pun tak perlu menguasaiku. Live the moment.