Archive for the 'Jejak baru' Category

Teka-teki takdir

July 20, 2008

Ini pertemuan pertama. Berseting sebuah kafe kopi pada satu malam di pusat perbelanjaan besar di bilangan Senayan.
Kami datang lebih dulu. Memesan tiga cangkir kopi untuk kami dan satu lagi untuknya. Kami menunggu. Yah, sekitar 15 menit.
Lalu dia datang. “Roberto,” katanya menyambut uluran tanganku memperkenalkan diri. Perawakannya tidak terlalu tinggi. Kurus sedang dengan kulit coklat. Efek [...]

Malas.. dan malas

July 17, 2008

Aku menemukan kehidupan ini di sekitar pesisir Bali beberapa bulan yang lalu. Laut yang luas, laut yang kaya.. Hmpfffff, almost have no comment setelah aku sendiri terlalu lelah mengomentari perjalanan negeri ini. (Hehehe). Seorang teman terkikik, “Itulah Indonesia.”
But still.. it is struggle. Seperti halnya aku mengalahkan kemalasanku mengupdate blog ini. Ga nyambung ya.
Duhhh.. rasanya sudah [...]

Bank emosi

April 28, 2008

Nama sebenarnya Twelve Bar Blues. Tapi orang biasa sebut BBs [Bibis] saja. Aku juga tidak tahu persis apa kepanjangannya. Bar Blues, mestinya..
 
Terletak di bilangan Menteng, bangunannya tampak suram dengan arsitektur lawas. Sedikit lusuh dengan dominasi cat hijau tua yang kusam. Apalagi, sekarang terkamuflase gedung baru Menteng Plaza yang disulap menjadi hotel di bawah kendali Accor [...]

Mengganggu?

April 24, 2008

 
Aku tidak pernah menghitung berapa juta kali impuls-impuls elektrokimiawi bereaksi di otak sepanjang hidupku.Yang aku tahu hanyalah setiap kali impuls-impuls di bagian korteks ini mengulang rekaman yang pernah ada, sering kali aku hanyut dalam dimensi yang serasa begitu akrab dengan indraku.
 
Kadang seperti de-javu…………………..
 
Aku juga tidak pernah memastikan berapa frame yang kini terjebak dalam peta [...]

Hanya soal waktu

April 2, 2008

Seorang teman kerap mengatakan kalimat sakti: Hanya Soal Waktu. Kalimat itu dicatutnya dari bak belakang truk yang dilihatnya di jalur utama Pantura. Sederhana. Tetapi berkesan, katanya.
Awalnya, aku tidak menanggapi itu serius. Tetapi lama-lama aku bergumam: Hmmm.. benar juga. Semua kemudian hanya soal waktu. Pembenaran, ingkaran, atau sekedar kamuflase?
Ya.. kamuflase dari jawaban yang tidak selalu ada. [...]