Teka-teki takdir
Ini pertemuan pertama. Berseting sebuah kafe kopi pada satu malam di pusat perbelanjaan besar di bilangan Senayan.
Kami datang lebih dulu. Memesan tiga cangkir kopi untuk kami dan satu lagi untuknya. Kami menunggu. Yah, sekitar 15 menit.
Lalu dia datang. “Roberto,” katanya menyambut uluran tanganku memperkenalkan diri. Perawakannya tidak terlalu tinggi. Kurus sedang dengan kulit coklat. Efek guratan menguatkan usia yang matang. Mata yang tajam bernaung di bawah kelopak mata cekungnya.
Tidak ada basa-basi. Suasana cair begitu saja. Dia orang yang hangat. Buah dari perjalanan hidupnya yang panjang dan bertemu dengan banyak orang. Sangat banyak orang. Meski tak banyak senyum, sesekali tawanya terburai dengan tatapan mata yang tak mudah ditebak. Dalam dan misterius.
Tak hanya tatapan, kalimatnya tersusun penuh arti. Kami –aku dan dua kawanku- hanya saling berpandang, menyimak lalu mencernanya dengan bahasa pemahaman kami masing-masing.
Kadang aku mengangguk tanda setuju. Tak jarang, aku membalasnya dengan tatapan penuh pertanyaannya. Lalu, tersenyum masgul dengan perasaan yang justru makin gundah. “Kamu mengerti?” ujarnya padaku sesekali demi membaca mataku yang kosong.
Dia memang tidak pernah berkata dengan kalimat langsung pada topiknya. Tidak pernah menjawab pertanyaan langsung pada intinya. Tidak memberikan penjelasan langsung pada makna harfiahnya. Semuanya justru sangat filosofis.
Tapi dengan begitu, dia mengajarkanku untuk membaca. Membaca diriku sendiri. Membaca dan kemudian mencoba memahami takdirku. Ya, takdir.. dengan teka-tekinya tentu saja.
Tak lebih 1 jam pertemuan dengannya. Beberapa kalimatnya kini masih terekam jelas. Sederhana dan kadang terdengar klise, tapi menusuk buatku: ———–AKU DALAM PENCARIANKU.
“Nduk, kalau mau naik kelas, semua orang harus menghadapi ujian. Kalau kamu mencari jalan pintas, itu hanya sementara. Suatu ketika nanti akan kembali seperti ini. Ujian itu tetap harus kamu hadapi.”
Tetapi rasanya aku tidak sanggup lagi melakukannya, kataku. “Karena itu bukan kamu. Jadilah dirimu sendiri.”
This entry was posted on July 20, 2008 at 11:16 am and is filed under Jejak baru. You can subscribe via RSS 2.0 feed to this post's comments. You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.