Kalau saja bukan atas nama pekerjaan, mustahil kaki kecilku menginjak perkebunan kelapa sawit. Dari areal baru yang masih menyisakan pokok-pokok kayu hutan, hamparan bibit yang baru ditanam, sampai ke hutan sawit yang rimbun dengan tandan buah yang mulai terlihat.
Semua nyaris sama…
Petak-petak kebun, kadang rapi kadang serampangan, seperti hamparan beberapa lapangan sepak bola di satu tempat. Jalan tanah yang menjalin tiap petakan, kering dan berdebu, tapi kerap pula becek dengan genangan air setelah hujan.
Barisan pokok kelapa sawit yang teratur seperti tentara berbaris dengan kepadatan 130-200 batang setiap hektare. Batang-batang yang gemuk kadang berlumut. Bau lembab di antara pokok kelapa sawit. Juntaian pelepah dan serangga kecil yang bebas beterbangan di antaranya. Sementara tanahnya tertutup rumput dan pelepah kering.
Di kebun dewasa, pucuk bunga hingga menjadi tandan calon buah mulai tampak. Di tempat lain, buah-buah mulai masak berwarna coklat kekuningan sampai kehitaman mengkilat.
Sampai ke pabrik, bau sawit yang diesktrasi menyisakan aroma wangi yang manis. Persis seperti bau karamel. Mengingatkanku pada bau wajan penjual gulali di sekolah dulu. Tapi berisiknya itu mengalahkan knalpot bajaj.
Ya, kalau saja bukan atas nama pekerjaan, mustahil kaki kecilku sampai ke Sumatera dan Kalimantan hanya sekedar untuk melihat kebun kelapa sawit. Ah, pekerjaan… yang menuntutku menggandakan intensitas.
Tapi… AKU MENIKMATI. Menikmati dengan puas kehidupan dalam intensitas berganda itu. Puas meski kerap masturbasi dengan melihat banyak kehidupan lain.







Recent Comments