Nama sebenarnya Twelve Bar Blues. Tapi orang biasa sebut BBs [Bibis] saja. Aku juga tidak tahu persis apa kepanjangannya. Bar Blues, mestinya..
Terletak di bilangan Menteng, bangunannya tampak suram dengan arsitektur lawas. Sedikit lusuh dengan dominasi cat hijau tua yang kusam. Apalagi, sekarang terkamuflase gedung baru Menteng Plaza yang disulap menjadi hotel di bawah kendali Accor Group.
Dari jalan utama BBs makin tidak tampak. Tenggelam dalam keriuhan di sepanjang Jalan Sidoarjo yang juga menjadi salah satu happening spot di pusat Jakarta dengan puluhan gerobak penjaja makanan yang mangkal setiap malam.
Pun sejak Stadion Menteng, base camp Persija dulu, dirombak menjadi Taman Menteng dengan tata lampu dan beberapa fasilitas umum, termasuk lapangan olah raga dan rumah kaca tempat pameran.
BBs tenggelam dalam kegelapan malam ketika kehidupan di sekitarnya mulai bergeliat hingga dini hari berikutnya. Tapi tidak bagi orang-orang yang tahu betul [what kinda place BBs is].
Pertama menyambangi lima tahun lalu, bar berornamen kayu dengan atmosfer yang sangat ngeblues ini tidak banyak berubah. Ada di lantai 3, interior, dekorasi, atau tata lampu masih tetap sama. Bahkan luas ruangan yang bisa dibilang minimalis, dengan dua meja besar di samping kiri dan depan panggung, tiga meja di floor dan dua meja bar-side, termasuk tempat duduk ala tribune yang bisa menampung total sekitar 30 orang.
Mungkin sedikit berubah sound systemnya. Tapi itu pun tak tampak banyak. Atau mungkin aku –yang juga bukan seorang pengamat musik, sekedar pendengar setia saja- yang tidak peka. J
Yang pasti, setiap Sabtu malam BBs jarang sepi. Lengkingan Doddy Katamsi yang dulu sempat jadi frontman Elpamas hampir selalu bisa membuat kenangan lama terbangkitkan lewat koleksi classicrock. Sebut saja Led Zeppelin, Pink Floyd, Dream Theater, anything u mention.
Buatku sendiri, tempat ini seperti bank emosi tempatku mengkredit kembali romantisme yang kadang menipis saking sumpeknya aktivitas.
Termasuk, pada satu Sabtu malam yang lalu, menikmati petikan gitar Totok Tewel yang kebetulan datang malam itu dan ditembak untuk memainkan Since I’ve Been Loving You-nya Led Zeppelin. Tiba-tiba intensitas detak jantungku bertambah. Ada perasaan bergetar di antah-berantah bagian hatiku. (Berlebihan…)
Semua orang di ruangan yang sudah berkabut asap rokok dan aroma segala cocktail, spirit, bahkan sekedar beer dan coke, berdiri dengan gayanya yang terbius kenangannya masing-masing.
Sementara aku, duduk terkesiap menikmati gejolak serotonin dalam otakku yang meningkat lalu menimbulkan efek semacam euforia.
Hingga akhirnya Doddy mengucap salam pamit. Lalu semua bubar dengan tertib membawa pulang bekal romantisme dari kenangan masa lalu ke alam tidur masing-masing.
Aku dan seorang kawan yang menemaniku malam itu, berangkulan, mengecap endorphin, sambil berdendang kecil, “If I die tomorrow, I’d be all right because I believe that after we’re gone the spirit carries on… .”
Recent Comments